Reog Campur Eko Budaya merupakan salah satu bentuk kegiatan seni yang mewadahi para masyarakat untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang seni. Reog Campur Eko Budoyo terletak di Gesikan RT 04 RW 28, Merdikorejo, Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian ini menggunakan tari dan musik tradisional yang berkembang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dijadikan referensi untuk mengembangkan kesenian Reog Campur Eko Budoyo.

Sejarah

Reog Campur Eko Budaya didirikan pada 1 September tahun 1979 oleh masyarakat desa Gesikan, Merdikorejo, Tempel, Sleman. Kesenian ini dibentuk oleh warga Gesikan yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Selepas bertani warga tidak memiliki kegiatan kemudian warga mencari kegiatan positif untuk mengisi waktu luang dan untuk melestarikan kebudayaan. Mereka mulai melakukan latihan tari, latihan memukul alat musik gamelan, dan latihan bernyanyi terus menerus dalam satu minggu sekali. Pada awal berdirinya Reog Campur Eko Budoyo, warga masih mengenakan kostum seadanya seperti jarik kemudian warga mulai iuran untuk membeli kostum. Seiring berjalannya waktu, terbentuklah paguyuban seni Reog Campur Eko Budoyo. Kepengurusan Reog Campur Eko Budoyo sudah masuk regenerasi kelima terhitung sejak awal berdiri paguyuban seni ini. Saat ini Reog Campur Eko Budoyo diketuai oleh bapak Agus Margono sejak tahun 2006.

Komposisi pemain Reog Campur Eko Budoyo sekitar 90% merupakan warga Gesikan dan 10% merupakan warga dari luar desa Gesikan. Adanya pemain dari warga luar desa Gesikan dikarenakan hobi dan kegemaran kemudian bergabung bersama paguyuban seni Reog Campur Eko Budoyo. Meski demikian, untuk anggota utama dan pengurus harian merupakan warga desa Gesikan. Usia untuk dapat menjadi pemain Reog Campur Eko Budoyo, secara tidak tertulis minimal berumur 17 tahun atau sudah menginjak remaja. Namun, untuk menjaga regenerasi dan keberlanjutan kesenian ini, para pengurus memperbolehkan warga yang masih anak-anak di bawah 17 tahun untuk bergabung.

Kesenian reog Campur Eko Budoyo merupakan seni yang menampilkan fragmen wayang Ramayana, yang menceritakan peperangan antara negara Alengkadiraja dengan negara Pancawati. Dalam cerita tersebut dikisahkan istri Prabu Rama Wijaya, raja Pancawati, yang bernama Dewi Sinta yang diculik oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke Alengkadiraja. Menurut cerita Ramayana, Dewi Sinta diculik oleh Rahwana ketika Sinta sedang berada sendirian di hutan dimana Rama sedang mengejar kijang yang merupakan wujud raksasa kiriman dari Rahwana. Selepas Rama berhasil mengalahkan raksasa tersebut, ia bertemu dengan Lesamana kemudian menyusul Sinta di dalam hutan. Akan tetapi, Sinta telah hilang dan menemukan Jatayu yang luka parah akibat berusaha menyelamatkan Sinta ketika hendak dibawa oleh Rahwana (cbsjatim, 2020).ย  Dalam rangka merebut kembali istrinya itulah terjadi perang besar antara prajurit dari Prabu Rama Wijaya dengan prajurit Prabu Dasamuka yang bercampur dalam satu wilayah. Percampuran itu yang menjadi nama “campur”.ย Seni reog yang masih sering dikaitkan dengan hal-hal yang mistis seperti kesurupan, hal tersebut juga ada pada seni Reog Campur Eko Budoyo sebagai bentuk pengembangan dari seni jathilan.

Tarian reog campur Eko Budaya itu berkisar pada persiapan perang antara kedua kubu. Acara dibuka dengan dua penari yang mewakili pimpinan tentara Alengka yang memanggil pasukan para raksasa. Pasangan demi pasangan penari berkostum raksasa masuk arena dan menari. Pada fagmen berikutnya hadir pasukan Pancawali yang dipimpin Prabu Ramawijaya yang menari berdefile berputar di arena. Ketika memasuki fragmen pertempuran, formasi barisan yang awalnya menari dengan teratur menjadi kacau layaknya perang brubuh. Pada situasi ini biasanya mulai ada yang kesurupan. Ritme musik, lagu, dan tarian pun berganti menjadi bercorak seperti jathilan pada umumnya.

Atribut yang dikenakan oleh para pemain reog ini menyesuaikan dengan cerita yang dibawakan. Sebagai contoh, ketika membawakan cerita peperangan antara negara Alengkadiraja dengan negara Pancawati, para pemain dibagi menjadi dua kostum. Kostum dengan atirbut raksasa menggambarkan rakyat dari negara Alengkadiraja,ย  sedangkan kostum kera dan prajutir menggambarkan rakyat dari negara Pancawati. Kostum yang dikenakan oleh para tokoh utama adalah kostum wayang orang. Tokoh buto diwakili oleh Raja Dasamuka (yang mengenakan atribut raja dengan riasan raksasa) tokoh Cakil yang khas dalam fragmen wayang, serta beberapa sosok tokoh yang mengenakan topeng raksasa kreasi baru. Di sisi Pancawati, terdapat raja Ramawijaya, Laksmana, serta tokoh kera memiliki tiga warna yakni merah, biru, dan putih (anggada, anila, dan anoman). Selain kostum, terdapat aksesoris lain seperti tombak dan payung. Payung digunakan sebagai penggambaran dari seorang patih yang mengawal raja dan tombak merupakan atribut milik prajurit.

Kajian

Reog Campur Eko Budoyo ditampilkan ketika ada permintaan untuk tampil atau membuat pementasan sendiri. Biasanya Reog Campur Eko Budoyo tampil dalam acara peringatan dan perayaan. Menurut ketua paguyuban, Bapak Agus Margono, Reog Campur Eko Budoyo beberapa kali diundang dalam acara Dinas Kebudayaan, penyambutan tamu di Bandara Yogyakarta International Airport, Merdikorejo Expo, penampil di Hotel Garuda, wisata Kaliurang, televisi nasional TVRI, dan masih banyak lagi. Setiap penampilan yang dibawakan memiliki sinopsis cerita yang berbeda. Untuk menunjang keperluan dana latihan, kostum, dan alat music Reog Campur Eko Budoyo beberapa kali diterima dari Dinas Kebudayaan.

Kesenian ini dilakukan berkelompok dan setiap penari memiliki peranan masing-masing. Dalam penampilannya, dibagi menjadi beberapa babak/bagian. Setiap babak yang ditampilkan memiliki julukan masing-masing dan berdurasi satu setengah jam seperti pada Pagelaran Reog Campur Eko Budaya untuk pentas Syawal pada tahun 2023 memiliki 2 babak. Dalam pagelaran tersebut dibagi menjadi Jathilan Klasik Sleman, Jathilan Klasik Jogja, Jathilan Klasik, dan Buto Khosek. Pada penampilan Reog Campur Eko Budoyo dalam acara Merdirejo Expo 2023, terdapat dua babak. Babak pertama adalah babak jogetan alus, tarian antar para prajurit dan babak kedua adalah babak panembromo, tarian antara buto dan kera.

Latihan Reog Campur Eko Budoyo dahulu rutin dilakukan. Untuk saat ini mengingat banyaknya anggota yang masih sekolah, kuliah, dan bekerja latihan hanya dilakukan ketika akan pentas saja, latihan dilakukan sejak H-3 acara. Pembagian peran juga diberikan ketika latihan. Musik yang dibawakan adalah musik tradisional seperti lagu tembang Jawa dan campursari yang diiringi oleh alat musik gamelan. Komposisi alat musik gamelan yang digunakan adalah 3 bendi, 3 gamelan, 1 bedug, 1 peruntung (bedug kecil), 1 gong, dan 1 kecrek. Lagu dinyanyikan oleh 2-3 orang.

Reog atau jathilan sudah banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan ciri khasnya masing-masing. Reog Campur Eko Budoyo memiliki ciri khas dengan menggunakan payung, tombak, dan bancak doyok/pamomong/sesepuh Pada umumnya kesenian reog atau jathilan hanya menggunakan jaranan. Berbeda pula dengan bregodo yang hanya menggunakan tombak sebagai atributnya.

Kendala yang dialami oleh seni paguyuban ini adalah kedisiplinan para anggota. Seiring berkembangnya zaman, sikap atau perilaku para anggota dinilai cukup berbeda dengan para anggota dari tahun yang terdahulu. Namun disisi lain, Reog Campur Eko Budoyo memiliki potensi dalam meningkatkan perekonomian. Banyaknya permintaan tampil dalam sebuah acara sebagai pengisi acara atau event tentunya mendapatkan honorarium yang dapat membantu pagelaran ini tetap lestari.

Adanya kelompok pagelaran seni Reog Campur Eko Budoyo dapat menciptakan kerekatan hubungan antar warga desa khususnya warga Desa Gesikan. Pagelaran ini juga membantu para warga untuk tetap produktif dan berkreativitas disela-sela kesibukan atau sekadar untuk mengisi waktu luang. Selain itu, adanya pagelaran yang diadakan di wilayahnya sendiri, masyarakat yang memiliki produk UMKM akan terbantu dalam penjualannya. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat desa Gesikan akan tercipta dengan kegiatan ekonomi yang berlangsung dengan stabil.

Reog Campur Eko Budoyo memiliki peranan penting dalam menjaga kelestarian budaya tak benda khususnya di Kecamatan Tempel, Sleman. Pagelaran ini memiliki usia sekitar 44 tahun dan hingga saat ini masih aktif berkegiatan dan tampil di berbagai acara, menunjukan bahwa pagelaran Reog Campur Eko Budoyo tetap ada bahkan di era yang sudah berbeda. Untuk menjaga eksistensi Reog Campur Eko Budoyo diperlukan adanya dukungan baik dari warga Desa Gesikan maupun pemerintah setempat baik secara materiil dan/atau nonmateriil.

Beberapa dokumentasi kegiatan: